
Aku senang mendekatkan tubuhku padanya, berbagi hangat dalam beku malam yang rambati punggung kami. Biasanya, dia akan membentangkan lengan dan biarkanku menelusup di balik dekapnya.
Saat itu, kami akan banyak bercerita, tentang masa kecilnya dan masa kecilku, kekasihnya dan kekasihku, saudaranya dan saudaraku, ayahnya dan ayahku. Kadang, kami juga bercerita tentang suami tetangganya, istri tetangganya, anak tetangganya, pacar anak tetangganya, bahkan tetangga dari tetangganya.
Tapi Aku tak menyadarinya, hingga kemarin...saat teh hangat tersaji sambut pagi, kepul nasi goreng bubarkan kantuk, berita pagi di TV ramaikan hari. Tidak seperti biasanya, hari itu tak ada omelan yang gaungnya hingga tembok tetangga. Dia begitu tenang, hanyutkan resahku karena tak biasa.
"Ada yang berubah?" tanyanya dengan gaya bak model.
"Berubah??Apa??" tatap dirinya sedekat mungkin.
"Lihat dong...!!!" Dia mempermainkan rambutnya.
Hayyaaa...ada yang baru di rambutnya. Aku tertawa,rambut itu sekarang berwarna merah kecoklatan. Celotehnya mengalir tentang teman kantor yang mengajaknya warnai rambut dengan daun pacar.
"Cantik..." ku peluk dirinya.
K tutupi haru dengan tawa...di sana pun Ku dapati guratan usia yang semakin tebal di wajahnya, garis-garis ketuaan di sudut matanya, di bibir, di dahi, gerak yang tak selincah dulu, marah yang tak sehebat dulu, tawa yang tak segirang dulu.
Ahhh...Ibuku, Maaf...Aku terlalu sibuk.